Senin, 29 Februari 2016 , tanggal dimana hanya ada ditahun kabisat.
beberapa hari aku sangat sibuk untuk menceritakan bagaimana aku telah melalui hariku,
karena
urusan kerja hari jumat aku ke kantor semarang, tidak ada pilihan lain
untuk menolak, karena aku memiliki tanggungjawab untuk pekerjaan ku ini,
ada perasaan senang namun ada perasaan takut, perasaan takut itu aku
mencoba mengabaikannya saja, jumat pagi pukul 08.00 aku sudah berada di
ruang meeting dan aku tidak melihatnya, meskipun aku tidak melihatnya
langsung pagi itu, hatiku serasa berdekup kencang dan berbeda dari
biasanya.
setelah breafing berjalan beberapa menit dan hampir
selesai, dia datang dengan wajah lugunya dan sedikit senyum konyolnya,
""""""aaarggghhh"" ketika itu aku seperti sedang menjinakan hatiku
sendiri untuk tetap bersikap sewajarnya, walaupun sebenarnya hatiku
seperti ingin terbang.
"aku senang melihatnya, setelah beberapa hari aku mencoba untuk menghindar darinya"
tapi
sialnya aku tetap tidak bisa menghilangkan perasaan aneh ini, "Ya
Tuhan" seakan aku tak ingin dia pergi dari pandanganku. kerap kali aku
kesal ketika ia berlalu berlalu begitu saja dari ku.
bagaiamanpun aku menyembunyikan rasa ini, tetap saja ada hal-hal yang terkadang tanpa aku niati menunjukan rasa ini.
Hujaaan, membuatku semakin galau karena memikirkan ini,
Finally
malam itu aku pulang kerumah saat hujan dan hari mulai larut malam, aku
mengendarai sepeda motorku ditengah hujan yang lebat dan jalanan yang
terkadang sepi tanpa pengendara lain, aku tak merasa resah ataupun takut
sedikitpun, malahan yang ada dipikiranku ketika itu "aku ingin dia
mengkhawatirkan ku saat aku pulang sendirian ditengah hujan malam hari"
tapi tak sedikitpun sikap empati nya yang terlihat untukku, meski itu
sekedar rasa khawatir untuk seorang teman.
mungkin aku sudah terbiasa mengharapkan sikap yang tak mungkin darinya.
sesampainya
dirumah aku mandi dan menghangatkan badanku dengan selimut dikamarku,
bodohnya aku, aku tetap tidak bisa menahan diriku untuk mengabarkannya,
setelah aku menjejer beberapa dokumen yang basah saat itu, aku coba
membuka chat dengannya.
tak lama ia merespon, dan ketika itu aku
memutuskan untuk memberitahukan sebenarnya apa yang aku rasakan, finally
aku mengatakannya kepadanya dengan conversation khas candaan kami,
beberapa kali seperti dia menertawakannya, tapi itu lebih baik agar
cerita ku tidak terlihat begitu serius, dan ia menanggapinya dengan
biasa saja, bahkan tidak ada respon darinya yang menunjukan dia
merasakan hal yang sama denganku, malahan dia juga mengatakan bahwa
bukan hanya aku yang merasakan hal seperti itu, karena ada seorang teman
ceweknya juga merasakan hal yang sama denganku. bodohnya aku tetap
tidak berani menanyakan perasaannya, tapi aku rasa jika aku
menanyakannya pasti aku akan mendapat jawaban yang sudah aku tebak saat
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar