Senin, 29 Februari 2016 , tanggal dimana hanya ada ditahun kabisat.
beberapa hari aku sangat sibuk untuk menceritakan bagaimana aku telah melalui hariku,
karena
urusan kerja hari jumat aku ke kantor semarang, tidak ada pilihan lain
untuk menolak, karena aku memiliki tanggungjawab untuk pekerjaan ku ini,
ada perasaan senang namun ada perasaan takut, perasaan takut itu aku
mencoba mengabaikannya saja, jumat pagi pukul 08.00 aku sudah berada di
ruang meeting dan aku tidak melihatnya, meskipun aku tidak melihatnya
langsung pagi itu, hatiku serasa berdekup kencang dan berbeda dari
biasanya.
setelah breafing berjalan beberapa menit dan hampir
selesai, dia datang dengan wajah lugunya dan sedikit senyum konyolnya,
""""""aaarggghhh"" ketika itu aku seperti sedang menjinakan hatiku
sendiri untuk tetap bersikap sewajarnya, walaupun sebenarnya hatiku
seperti ingin terbang.
"aku senang melihatnya, setelah beberapa hari aku mencoba untuk menghindar darinya"
tapi
sialnya aku tetap tidak bisa menghilangkan perasaan aneh ini, "Ya
Tuhan" seakan aku tak ingin dia pergi dari pandanganku. kerap kali aku
kesal ketika ia berlalu berlalu begitu saja dari ku.
bagaiamanpun aku menyembunyikan rasa ini, tetap saja ada hal-hal yang terkadang tanpa aku niati menunjukan rasa ini.
Hujaaan, membuatku semakin galau karena memikirkan ini,
Finally
malam itu aku pulang kerumah saat hujan dan hari mulai larut malam, aku
mengendarai sepeda motorku ditengah hujan yang lebat dan jalanan yang
terkadang sepi tanpa pengendara lain, aku tak merasa resah ataupun takut
sedikitpun, malahan yang ada dipikiranku ketika itu "aku ingin dia
mengkhawatirkan ku saat aku pulang sendirian ditengah hujan malam hari"
tapi tak sedikitpun sikap empati nya yang terlihat untukku, meski itu
sekedar rasa khawatir untuk seorang teman.
mungkin aku sudah terbiasa mengharapkan sikap yang tak mungkin darinya.
sesampainya
dirumah aku mandi dan menghangatkan badanku dengan selimut dikamarku,
bodohnya aku, aku tetap tidak bisa menahan diriku untuk mengabarkannya,
setelah aku menjejer beberapa dokumen yang basah saat itu, aku coba
membuka chat dengannya.
tak lama ia merespon, dan ketika itu aku
memutuskan untuk memberitahukan sebenarnya apa yang aku rasakan, finally
aku mengatakannya kepadanya dengan conversation khas candaan kami,
beberapa kali seperti dia menertawakannya, tapi itu lebih baik agar
cerita ku tidak terlihat begitu serius, dan ia menanggapinya dengan
biasa saja, bahkan tidak ada respon darinya yang menunjukan dia
merasakan hal yang sama denganku, malahan dia juga mengatakan bahwa
bukan hanya aku yang merasakan hal seperti itu, karena ada seorang teman
ceweknya juga merasakan hal yang sama denganku. bodohnya aku tetap
tidak berani menanyakan perasaannya, tapi aku rasa jika aku
menanyakannya pasti aku akan mendapat jawaban yang sudah aku tebak saat
itu.
Senin, 29 Februari 2016
Minggu, 21 Februari 2016
MELUPAKANMU MUNGKIN HAL YANG TEPAT
Senin pagi 22 Februari 2016,
ya disini pukul 08.00 aku sudah duduk manis di meja kerjaku, seperti biasa pagi adalah waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin, beberapa hari setelah aku mencoba untuk tidak berkomunikasi dengannya, finally aku memutuskan untuk membuka chat dengannya terlebih dahulu, dengan pertanyaan yang mungkin terkesan kepo dan aneh baginya, dia tetap membalas chat ku dengan narsisnya, aku yang semakin tidak bisa menyembunyikan perasaanku terkesan aneh baginya, sabtu malam ketika itu dia memberitahuku bahwa ia sedang nonton dengan seorang cewek, mungkin ini jawaban atas sikap yang cuek dan ngga peka nya selama ini, walaupun ada perasaan kecewa dan entah apa itu, aku sedikit lega bahwa aku memiliki alasan untuk tetap tidak memberitahukan perasaanku yang sebenarnya.
Disisi lain aku mencoba tetap menjaga perasaanku untuk seseorang yang sudah kupilih sebelumnya, aku berjanji tidak akan meninggalkannya dan mengecewakannya, karena aku menyanyanginya, karena aku akan menghabiskan sisa waktu yang kumiliki bersamanya.
Mungkin ini fase dimana perasaan sayangku sedang di uji oleh Tuhan, dan aku harus tetap menjaga apa yang sudah menjadi komitmenku semula. Aku berencana untuk untuk resign saja dari perusahaan ini, tapi mungkin dalam waktu 3 bulan kedepan, aku berfikir itu lebih mudah bagiku untuk mengontrol perasaanku untuk melupakannya.
ya disini pukul 08.00 aku sudah duduk manis di meja kerjaku, seperti biasa pagi adalah waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin, beberapa hari setelah aku mencoba untuk tidak berkomunikasi dengannya, finally aku memutuskan untuk membuka chat dengannya terlebih dahulu, dengan pertanyaan yang mungkin terkesan kepo dan aneh baginya, dia tetap membalas chat ku dengan narsisnya, aku yang semakin tidak bisa menyembunyikan perasaanku terkesan aneh baginya, sabtu malam ketika itu dia memberitahuku bahwa ia sedang nonton dengan seorang cewek, mungkin ini jawaban atas sikap yang cuek dan ngga peka nya selama ini, walaupun ada perasaan kecewa dan entah apa itu, aku sedikit lega bahwa aku memiliki alasan untuk tetap tidak memberitahukan perasaanku yang sebenarnya.
Disisi lain aku mencoba tetap menjaga perasaanku untuk seseorang yang sudah kupilih sebelumnya, aku berjanji tidak akan meninggalkannya dan mengecewakannya, karena aku menyanyanginya, karena aku akan menghabiskan sisa waktu yang kumiliki bersamanya.
Mungkin ini fase dimana perasaan sayangku sedang di uji oleh Tuhan, dan aku harus tetap menjaga apa yang sudah menjadi komitmenku semula. Aku berencana untuk untuk resign saja dari perusahaan ini, tapi mungkin dalam waktu 3 bulan kedepan, aku berfikir itu lebih mudah bagiku untuk mengontrol perasaanku untuk melupakannya.
Rabu, 17 Februari 2016
PAGI YANG CERAH HATI YANG DILEMA
Kamis pagi, 18 Februari 2016.
iya pagi yang cerah, dan aku berangkat kantor seperti biasa, setiba di meja kerjaku aku merasa aura pagi ini berbeda dari hari sebelumnya, mungkin karena si Big Operasional Manager yang terhormat sedang perdin keluar kota untuk beberapa hari, haah rasanya ingin seperti ini terus, mungkin suasana kantor akan lebih baik, atleast ada alasan untuku untuk tetap semangat berangkat ngantor.
Berbicara hari ini, aku semalam memimpikanya, mimpi yang samar tapi aku melihatnya dengan begitu jelas, di dalam mimpi aku berjalan dan ia mengikutiku, aku mengacuhkannya dan mencoba mencari jalan lain, namun dia tetap berusaha mengikuti arahku dan berusaha menghadang langkahku, karena aku terus menghindar, kemudian ia berlalu begitu saja tanpa suatu kata. Aku terbangun dengan perasaan yang semakin dilema, semakin dilema karena aku tidak bisa mengontrol fikiranku untuk tidak memikirkannya setiap waktu.
Tak lama setelah aku terbangun aku mencoba meraih ponselku, meraba sekeliling bantal tidurku dan selimutku, aku mendapatkannya dan tidak sabar aku ingin melihat akun sosmed nya pada list friend dengan menuliskan initila namanya, padahal baru kemarin aku menghapus history chatku dengannya untuk mengalihkan pikiranku tentangnya, namun bodohnya aku tetap tidak berhasil dan tetap saja berusaha untuk melihat profilnya meskipun seperti hal yang mustahil jika aku melihat foto dirinya di aku pribadinya, dia sedikit berbeda dari laki-laki modern jaman sekarang karena bagiku ia bukan seorang yang haus akan pencitraan diri, apa yang di tunjukannya sekedar apa yang membuatnya bahagia saat itu.
terlihat sebagai sosok yang banyak tidak tau segala hal, ia memiliki jiwa yang begitu sabar dan penurut, ada beberapa hal yang membuat dirinya tetap terlihat stay coll dengan kepolosannya, mungkin itu karena ia berusaha untuk selalu menjadi orang yang lebih baik, dan beberapa waktu terakhir aku seringkali memperhatikannya tanpa ia sadari hal itu. tak jarang aku selalu menyembunyikan perasaanku dengan sikapku yang selalu ketus terhadapnya.
Berbicara hari ini, aku semalam memimpikanya, mimpi yang samar tapi aku melihatnya dengan begitu jelas, di dalam mimpi aku berjalan dan ia mengikutiku, aku mengacuhkannya dan mencoba mencari jalan lain, namun dia tetap berusaha mengikuti arahku dan berusaha menghadang langkahku, karena aku terus menghindar, kemudian ia berlalu begitu saja tanpa suatu kata. Aku terbangun dengan perasaan yang semakin dilema, semakin dilema karena aku tidak bisa mengontrol fikiranku untuk tidak memikirkannya setiap waktu.
Tak lama setelah aku terbangun aku mencoba meraih ponselku, meraba sekeliling bantal tidurku dan selimutku, aku mendapatkannya dan tidak sabar aku ingin melihat akun sosmed nya pada list friend dengan menuliskan initila namanya, padahal baru kemarin aku menghapus history chatku dengannya untuk mengalihkan pikiranku tentangnya, namun bodohnya aku tetap tidak berhasil dan tetap saja berusaha untuk melihat profilnya meskipun seperti hal yang mustahil jika aku melihat foto dirinya di aku pribadinya, dia sedikit berbeda dari laki-laki modern jaman sekarang karena bagiku ia bukan seorang yang haus akan pencitraan diri, apa yang di tunjukannya sekedar apa yang membuatnya bahagia saat itu.
terlihat sebagai sosok yang banyak tidak tau segala hal, ia memiliki jiwa yang begitu sabar dan penurut, ada beberapa hal yang membuat dirinya tetap terlihat stay coll dengan kepolosannya, mungkin itu karena ia berusaha untuk selalu menjadi orang yang lebih baik, dan beberapa waktu terakhir aku seringkali memperhatikannya tanpa ia sadari hal itu. tak jarang aku selalu menyembunyikan perasaanku dengan sikapku yang selalu ketus terhadapnya.
MEMILIH
tepat tahun 2015 bulan April aku memutuskan untuk kembali ke Jawa, ya beberapa alasan dan pertimbangan sudah aku fikirikan sebelumnya, namun memang terkadang ekspetasi tidak sesuai realita, aku meninggalkan Batam island setelah aku mengenal pulai itu kurang lebih 1,5 tahun sejak aku mulai lulus kuliah di Jawa, aku berangkat ke Batam dengan beberapa harapan dan beberapa mimpi tentunya, dan aku bersyukur tidak lama aku di Batam aku mendapatkan kebahagiaan, aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai sekaligus keluarga baru di kantor. Itulah awal aku mulai mengenal orang-orang yang sudah aku anggap lebih dari seorang rekan kerja dan teman "iya" seperti keluargaku, keluh kesah dan senangku ada disana, bahkan aku tidak pernah merasa seperti sedang bekerja ketika aku berada di kantor, setiap kesibukan dan laporan menumpuk di meja kerja ku kala itu aku sangat begitu menikmatinya, ditambah atasan yang selalu memahami kondisiku bahkan suasana hatiku setiap hari, dan bahkan aku tidak menyukai hari minggu ketika itu, karena rutinitas weekend ku tidak lebih menyenangkan daripada rutinitasku di kantorku tercinta.
Tak jarang kita pun sering menghabiskan waktu bersama diluar sepulang dari kantor, pergi ngemall, nonton, makan bareng, nongkrong-nongkrong, hunting baju bareng, itu semua menyenangkan sekali untuku lakukan bersama, seringkali aku pulang larut malam sampai rumah, seperti tanpa beban hidup sama sekali, yaa bahkan aku pernah berkata "ini terlalu menyenangkan".
Seringkali aku ikut andil kerja diluar ruangan, bersama team, ya walaupun terkadang aku yang memohon agar dibolehkan.
kadang aku bertanya dalam hati bukankah roda itu berputar "kapan cerita ini akan ending" aku pun tidak tahu, dibalik kebahagiaanku ada beberapa hal yang pada akhirnya harus aku lepaskan, walau sebetulnya awalnya tidak tidak mudah, tapi aku iklas kalau dengan melepaskan itu yang lebih baik.
Setengah tahun di Batam aku putus dengan tunanganku "ya tunangan" mungkin bagi mereka yang mendengar hal ini aku orang yang sangat memalukan karena tidak mampu mempertahankan apa yang sudah menjadi komitmen ku sejak awal, tapi itu sebetulnya bukan komitmenku, aku hanya mengiyakan permintakan mama ku ketika itu, sebelum aku bertunangan aku sudah menjalin hubungan dengannya kurang lebih 3 tahun, dari tiga tahun yang telah ku lalui denganya banyak hal suka dan duka kita lewati bersama, setelah aku sadar bahwa sebenarnya perasaanku hanya sekedar perasaan simpati dan tidak lebih aku tetap berusaha menjalaninya dan menunggu sampai ada keyakinan dalam hatiku untuk melanjutkan hubunganku ke arah yang lebih serius, entah kenapa 3 tahun menjalaninya belum ada keyakinan dihatiku alasan aku mengiyakan permintaan mama untuk bertunangan dengannya adalah "ketika mama bilang ingin minta permintaan satu hal kepadaku dan itu sangat berarti untuknya" entah kenapa aku tidak bisa menolaknya dengan alasan itu dan akhirnya aku mengiyakannya dengan setengah hati, setelah aku bertunangan justru aku semakin merasa aku bukanlah aku "aku merasa asing" aku merasa tidak kenal dengan diriku sendiri "aku tidak bahagia" dengan ini semua, seringkali dia begitu posesive dengan segala hal yang aku lakukan, aku selalu salah, aku tahu dia begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri, aku selalu berusaha untuk mencintainya dengan tulus dan menjalani saja jalan yang ada dihadapanku, tapi aku tidak bisa berlakon layaknya aktor drama, aku selalu berusaha menunjukan diriku apa adanya dan aku mencoba keluar dari batas-batas yang bisa jadi dia benci, semakin aku mengikuti kata hatiku semakin seringpula terjadi pertengkaran antara aku denganya, termasuk keputusan aku untuk pergi ke Batam sebetulnya ia tidak mengijinkannya, walau begitu aku tetap pergi.
itu awal hubungan LDR ku denganya dimulai sampai pada akhirnya kita saling tidak memahami dan tidak pernah sepaham terhadap apapun, ditambah rasa posesive nya yang sangat menggangguku dan membuatku semakin ingin menyudahi semuanya, namun sepertinya aku tidak bisa mengecewakan mama ku sehingga aku tetap menjalaninya saja, dan mengikuti skenarion yang telah tuhan tuliskan untukku, finally hubunganku berakhir di pertengahan tahun aku di Batam, dan ketika itu ada hal yang berat seperti untuk aku melepaskannya, dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain, tanpa memutuskan komitmen aku dengannya terlebih dahulu, rasanya malu dan seperti terbuang begitu saja, tapi aku berfikir mungkin inilah jawaban dari Tuhan dari rasa yakin yang aku tunggu.
beberapa bulan sebelum hubunganku berakhir kami memang seringkali bertengkar dan saling diam satu sama lain, bukan aku sengaja menjauh, aku hanya bosan dengan sifat over posesive dia dan berbagai tuduhan yang tidak seharusnya ia lontarkan terhadapku, dan akhirnya aku memilih diam.
setidaknya aku tidak harus beradu argumen dan menggapi emosionalnya, dari diamku aku berharap dia berubah dan coba memahami dan mengerti, beberapa bulan kami tidak saling komunikasi dan saling sapa seperti biasa, namun sesekali aku mencoba tetap memastikan keadaanya dengan menelponnya dengan "privat number" , cukup mendengar kata "halo"dari nya aku sudah cukup lega, karena sering kali ia ingin berbuat hal konyol ketika ia sedang bertengkar denganku, tapi aku ia tidak memiliki cukup keberanian untuk membuat dirinya celaka, walau demikian aku tetap mencemaskannya, bagaimanapun aku merasa bersyukur memiliki seorang yang begit amat sangat menyayangiku, walau aku tidak bisa membalas perasaan yang sama.
beberapa bulan kita saling diam, aku ingin tahu apakah ia tetap bertahan dan setia menungguku, aku memutuskan untuk cuti beberapa hari pulang ke Jawa di Moment lebaran, dan aku sengaja tidak memberitahukan hal ini kepadanya, karena entah kenapa dihadapannya aku tidak ingin terlihat sebagai seorang yang mempedulikannya, dan bahkan setiap apa yang aku ucapkan berbanding kebalik dengan apa yang aku lakukan, mungkin aku terlihat sebagai seorang yang jahat dimatanya, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak ingin menunjukan rasa cinta sedikitpun kepadanya.
karena aku tidak memberitahukannya aku pulang tanpa sepengetahuannya, dan aku berniat menelponnya ketika aku berada dirumah dan siap untuk bertemu dengannya, aku ingin memberi kejutan untuknya, tapi apa yang aku lakukan rasanya sia-sia dan..........................................
Selasa, 16 Februari 2016
BE BETTER MORE THAN YESTERDAY
Rabu pagi, 17 Februari 2016
pagi lumayan cerah, berangkat ngantor seperti biasa. Pagi ini sepertinya aku merasa lebih baik dari pagi kemarin. Ada sedikit beban yang barusan aku letakan, akhirnya aku memutuskan untuk menunda apa yang semula menjadi goal list ku tahun ini, entah kenapa keyakinan ku berkurang setelah aku mendengar apa yang menjadi keputusannya kemarin, tiba-tiba aku sudah tidak merasa excited untuk itu, namun setlah aku memutuskan seolah-olah aku bersalah, karena menunda 1 hari atau 5 tahun bagiku itu sama saja bermakna menunda, bukankah dia yang memutuskan untuk menundanya sebelum aku.
Mungkin lebih baik memang aku fokus untuk study dan karierku saat ini, yang sudah nyaris aku abaikan begitu saja, karena awalnya aku merasa tidak ada yang lebih penting dari urusanku dibanding dengan apa yang menjadi tujuan bersamanya. "iya" sekarang seolah-olah aku sangat kejam, sekarang dia menganggap itu terlalu lama, dan terkadang akupun berfikir "mungkinkah" ini yang dinamakan ujian untuk menjalin sebuah keluarga, tapi keyakinanku tidak akan pernah berkurang jikalau bukan dia sendiri yang membuatnya. Sekarang justru semakin aku mati rasa untuk membuat impian yang indah bersamanya. "Ya Allah"terkadang aku bingung sendiri.
Mungkin lebih baik memang aku fokus untuk study dan karierku saat ini, yang sudah nyaris aku abaikan begitu saja, karena awalnya aku merasa tidak ada yang lebih penting dari urusanku dibanding dengan apa yang menjadi tujuan bersamanya. "iya" sekarang seolah-olah aku sangat kejam, sekarang dia menganggap itu terlalu lama, dan terkadang akupun berfikir "mungkinkah" ini yang dinamakan ujian untuk menjalin sebuah keluarga, tapi keyakinanku tidak akan pernah berkurang jikalau bukan dia sendiri yang membuatnya. Sekarang justru semakin aku mati rasa untuk membuat impian yang indah bersamanya. "Ya Allah"terkadang aku bingung sendiri.
Namun ini sudah menjadi keputusanku, okeee apapun itu impian indah bersama orang lain aku sudah tidak begitu peduli, karena mungkin itu bukan impian indah untuknya. aku tetap akan menjalani hidupku mengikuti arus dan mencoba melakukan yang menurutku hal yang semestinyaharus aku lakukan.
Senin, 15 Februari 2016
THE DAY AFTER VALENTINE DAY
pagi disambut dengan hujan,
hari selasa pertengahan februari 2016 dan aku menjalani rutinitasku seperti biasa "yes" ngantor
masih dikantor after kantor pertamaku fressgraduate 3 tahun lalu.
aku seperti terdampar dipulau biasa setelah berlayar di surga lautan.
yang mentakdirkanku bertemu dengannya,
aku masih bingung dan berusaha melupakan dan membuang jauh pikiran ini.
aku bukan remaja lagi dan bukan masanya aku labil seperti anak SMA yang memuja cinta
yang menangisi cinta, aaaahhh seperti ingin hilang ingatan saja aku ini.
dia dengan kesederhanaannya, kepolosannya, ketidak tahuannya, segala hal kekonyolannya
seperti magic yang mampu mengubah setiap hal menjadi menyenangkan.
entahlah, semakin lama aku semakin terlihat bodoh sendiri.
aku seorang yang tidak bisa menyembunyikan hal sekecil apapun untuk aku simpan.
apalagi perasaan ini, rasanya aku memiliki beban yang ingin sekali aku muntahkan
bahkan dia terlihat seperti tidak apa-apa dibalik kebimbanganku.
entahlah, apakah dia berpura-pura saja, atau ini trik untuk mengalihkan fokusnya.
dan rasanya aku ingin sekali dia menegurku dalam setiap hal, dengan tegurannya yang ketus sekalipun "dan aku merasa itu bermakna lain"
dan kemudian aku meresponnya dengan bahasa yang mungkin membuatnya kesal
"itu hal yang menyenangkan sekali untuku lakukan"
mungkin menahan diri untuk tidak berkomunikasi denganya itu hal yang tepat
tapi itu justru akan membuatku semakin tidak tenang dan berkali-kali membuatku mengecek
chat history ku denganya, tidak jarang terkadang aku mencari alasan agar aku bisa membuka obrolan dengannya, hal yang membuatnya kesal sekalipun. namun sebenarnya dalam hatiku ingin memberitahunya "ini bermakna lain"
hari selasa pertengahan februari 2016 dan aku menjalani rutinitasku seperti biasa "yes" ngantor
masih dikantor after kantor pertamaku fressgraduate 3 tahun lalu.
aku seperti terdampar dipulau biasa setelah berlayar di surga lautan.
yang mentakdirkanku bertemu dengannya,
aku masih bingung dan berusaha melupakan dan membuang jauh pikiran ini.
aku bukan remaja lagi dan bukan masanya aku labil seperti anak SMA yang memuja cinta
yang menangisi cinta, aaaahhh seperti ingin hilang ingatan saja aku ini.
dia dengan kesederhanaannya, kepolosannya, ketidak tahuannya, segala hal kekonyolannya
seperti magic yang mampu mengubah setiap hal menjadi menyenangkan.
entahlah, semakin lama aku semakin terlihat bodoh sendiri.
aku seorang yang tidak bisa menyembunyikan hal sekecil apapun untuk aku simpan.
apalagi perasaan ini, rasanya aku memiliki beban yang ingin sekali aku muntahkan
bahkan dia terlihat seperti tidak apa-apa dibalik kebimbanganku.
entahlah, apakah dia berpura-pura saja, atau ini trik untuk mengalihkan fokusnya.
dan rasanya aku ingin sekali dia menegurku dalam setiap hal, dengan tegurannya yang ketus sekalipun "dan aku merasa itu bermakna lain"
dan kemudian aku meresponnya dengan bahasa yang mungkin membuatnya kesal
"itu hal yang menyenangkan sekali untuku lakukan"
mungkin menahan diri untuk tidak berkomunikasi denganya itu hal yang tepat
tapi itu justru akan membuatku semakin tidak tenang dan berkali-kali membuatku mengecek
chat history ku denganya, tidak jarang terkadang aku mencari alasan agar aku bisa membuka obrolan dengannya, hal yang membuatnya kesal sekalipun. namun sebenarnya dalam hatiku ingin memberitahunya "ini bermakna lain"
Jumat, 12 Februari 2016
DILUAR BATASKU
memutuskan untuk berhenti memikirkan
realitanya tidak semudah mengucapkan
"ya" dan aku masih penasaran
dengan apa yang ia fikirkan
mungkinkah sama.
ini diluar batasku
bahkan aku akan berdosa jika aku menuruti nya
membencimu pun tak pernah berhasil
menghindar justru akan memperjelas semuanya
diam akan terasa sangat aneh
ini diluar batasku
dan ia berdiri tepat dibatas itu
realitanya tidak semudah mengucapkan
"ya" dan aku masih penasaran
dengan apa yang ia fikirkan
mungkinkah sama.
ini diluar batasku
bahkan aku akan berdosa jika aku menuruti nya
membencimu pun tak pernah berhasil
menghindar justru akan memperjelas semuanya
diam akan terasa sangat aneh
ini diluar batasku
dan ia berdiri tepat dibatas itu
BIMBANG
Jumat Sore 12 Februari 2016
cuaca yang selalu gerimis melengkapi kebimbanganku sudah,
seperti biasa masih menunggu jam pulang kantor tiba.
ada sedikit rasa yang aku tidak mengerti belum lama ini, awalnya biasa-biasa saja,
tapi akhir-akhir ini seperti ada yang aneh dengan diriku.
entah itu apa, setiap kali aku menunggu waktu untuk melihatnya.
obrolan ringan dan buly'an itu seperti hal menyenangkan untuku,
setiap kali melihatnya aku merasa senang.
konyol memang, aku harap ini bukan.
bukan hal yang akan menggoyahkan keputusanku.
tapi setiap kali diam, selalu saja seperti seolah-olah
semua menuntunku untuk memikirkannya lagi.
bahkan ada hal yang membuat keyakinan ku
terhadap keputusanku sendiri berkurang sedikit-demi sedikit
cuaca yang selalu gerimis melengkapi kebimbanganku sudah,
seperti biasa masih menunggu jam pulang kantor tiba.
ada sedikit rasa yang aku tidak mengerti belum lama ini, awalnya biasa-biasa saja,
tapi akhir-akhir ini seperti ada yang aneh dengan diriku.
entah itu apa, setiap kali aku menunggu waktu untuk melihatnya.
obrolan ringan dan buly'an itu seperti hal menyenangkan untuku,
setiap kali melihatnya aku merasa senang.
konyol memang, aku harap ini bukan.
bukan hal yang akan menggoyahkan keputusanku.
tapi setiap kali diam, selalu saja seperti seolah-olah
semua menuntunku untuk memikirkannya lagi.
bahkan ada hal yang membuat keyakinan ku
terhadap keputusanku sendiri berkurang sedikit-demi sedikit
Langganan:
Postingan (Atom)