Rabu, 17 Februari 2016

MEMILIH

tepat tahun 2015 bulan April aku memutuskan untuk kembali ke Jawa, ya beberapa alasan dan pertimbangan sudah aku fikirikan sebelumnya, namun memang terkadang ekspetasi tidak sesuai realita, aku meninggalkan Batam island setelah aku mengenal pulai itu kurang lebih 1,5 tahun sejak aku mulai lulus kuliah di Jawa, aku berangkat ke Batam dengan beberapa harapan dan beberapa mimpi tentunya, dan aku bersyukur tidak lama aku di Batam aku mendapatkan kebahagiaan, aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai sekaligus keluarga baru di kantor.  Itulah awal aku mulai mengenal orang-orang yang sudah aku anggap lebih dari seorang rekan kerja dan teman "iya" seperti keluargaku, keluh kesah dan senangku ada disana, bahkan aku tidak pernah merasa seperti sedang bekerja ketika aku berada di kantor, setiap kesibukan dan laporan menumpuk di meja kerja ku kala itu aku sangat begitu menikmatinya, ditambah atasan yang selalu memahami kondisiku bahkan suasana hatiku setiap hari, dan bahkan aku tidak menyukai hari minggu ketika itu, karena rutinitas weekend ku tidak lebih menyenangkan daripada rutinitasku di kantorku tercinta.
Tak jarang kita pun sering menghabiskan waktu bersama diluar sepulang dari kantor, pergi ngemall, nonton, makan bareng, nongkrong-nongkrong, hunting baju bareng, itu semua menyenangkan sekali untuku lakukan bersama, seringkali aku pulang larut malam sampai rumah, seperti tanpa beban hidup sama sekali, yaa bahkan aku pernah berkata "ini terlalu menyenangkan".
Seringkali aku ikut andil kerja diluar ruangan, bersama team, ya walaupun terkadang aku yang memohon agar dibolehkan.
kadang aku bertanya dalam hati bukankah roda itu berputar "kapan cerita ini akan ending" aku pun tidak tahu, dibalik kebahagiaanku ada beberapa hal yang pada akhirnya harus aku lepaskan, walau sebetulnya awalnya tidak tidak mudah, tapi aku iklas kalau dengan melepaskan itu yang lebih baik.
Setengah tahun di Batam aku putus dengan tunanganku "ya tunangan" mungkin bagi mereka yang mendengar hal ini aku orang yang sangat memalukan karena tidak mampu mempertahankan apa yang sudah menjadi komitmen ku sejak awal, tapi itu sebetulnya bukan komitmenku, aku hanya mengiyakan permintakan mama ku ketika itu, sebelum aku bertunangan aku sudah menjalin hubungan dengannya kurang lebih 3 tahun, dari tiga tahun yang telah ku lalui denganya banyak hal suka dan duka kita lewati bersama, setelah aku sadar bahwa sebenarnya perasaanku hanya sekedar perasaan simpati dan tidak lebih aku tetap berusaha menjalaninya dan menunggu sampai ada keyakinan dalam hatiku untuk melanjutkan hubunganku ke arah yang lebih serius, entah kenapa 3 tahun menjalaninya belum ada keyakinan dihatiku alasan aku mengiyakan permintaan mama untuk bertunangan dengannya adalah "ketika mama bilang ingin minta permintaan satu hal kepadaku dan itu sangat berarti untuknya" entah kenapa aku tidak bisa menolaknya dengan alasan itu dan akhirnya aku mengiyakannya dengan setengah hati, setelah aku bertunangan justru aku semakin merasa aku bukanlah aku "aku merasa asing" aku merasa tidak kenal dengan diriku sendiri "aku tidak bahagia" dengan ini semua, seringkali dia begitu posesive dengan segala hal yang aku lakukan, aku selalu salah, aku tahu dia begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri, aku selalu berusaha untuk mencintainya dengan tulus dan menjalani saja jalan yang ada dihadapanku, tapi aku tidak bisa berlakon layaknya aktor drama, aku selalu berusaha menunjukan diriku apa adanya dan aku mencoba keluar dari batas-batas yang bisa jadi dia benci, semakin aku mengikuti kata hatiku semakin seringpula terjadi pertengkaran antara aku denganya, termasuk keputusan aku untuk pergi ke Batam sebetulnya ia tidak mengijinkannya, walau begitu aku tetap pergi.
itu awal hubungan LDR ku denganya dimulai sampai pada akhirnya kita saling tidak memahami dan tidak pernah sepaham terhadap apapun, ditambah rasa posesive nya yang sangat menggangguku dan membuatku semakin ingin menyudahi semuanya, namun sepertinya aku tidak bisa mengecewakan mama ku sehingga aku tetap menjalaninya saja, dan mengikuti skenarion yang telah tuhan tuliskan untukku, finally hubunganku berakhir di pertengahan tahun aku di Batam, dan ketika itu ada hal yang berat seperti untuk aku melepaskannya, dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain, tanpa memutuskan komitmen aku dengannya terlebih dahulu, rasanya malu dan seperti terbuang begitu saja, tapi aku berfikir mungkin inilah jawaban dari Tuhan dari rasa yakin yang aku tunggu.
beberapa bulan sebelum hubunganku berakhir kami memang seringkali bertengkar dan saling diam satu sama lain, bukan aku sengaja menjauh, aku hanya bosan dengan sifat over posesive dia dan berbagai tuduhan yang tidak seharusnya ia lontarkan terhadapku, dan akhirnya aku memilih diam.
setidaknya aku tidak harus beradu argumen dan menggapi emosionalnya, dari diamku aku berharap dia berubah dan coba memahami dan mengerti, beberapa bulan kami tidak saling komunikasi dan saling sapa seperti biasa, namun sesekali aku mencoba tetap memastikan keadaanya dengan menelponnya dengan "privat number" , cukup mendengar kata "halo"dari nya aku sudah cukup lega, karena sering kali ia ingin berbuat hal konyol ketika ia sedang bertengkar denganku, tapi aku ia tidak memiliki cukup keberanian untuk membuat dirinya celaka, walau demikian aku tetap mencemaskannya, bagaimanapun aku merasa bersyukur memiliki seorang yang begit amat sangat menyayangiku, walau aku tidak bisa membalas perasaan yang sama.
beberapa bulan kita saling diam, aku ingin tahu apakah ia tetap bertahan dan setia menungguku, aku memutuskan untuk cuti beberapa hari pulang ke Jawa di Moment lebaran, dan aku sengaja tidak memberitahukan hal ini kepadanya, karena entah kenapa dihadapannya aku tidak ingin terlihat sebagai seorang yang mempedulikannya, dan bahkan setiap apa yang aku ucapkan berbanding kebalik dengan apa yang aku lakukan, mungkin aku terlihat sebagai seorang yang jahat dimatanya, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak ingin menunjukan rasa cinta sedikitpun kepadanya.
karena aku tidak memberitahukannya aku pulang tanpa sepengetahuannya, dan aku berniat menelponnya ketika aku berada dirumah dan siap untuk bertemu dengannya, aku ingin memberi kejutan untuknya, tapi apa yang aku lakukan rasanya sia-sia dan..........................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar